Menopause, inilah cara menghadapinya

Menopause, inilah cara menghadapinya

4 min read

Parents, apakah Anda sudah membaca artikel sebelumnya yang membahas menopause? Ya, menopause akan menjadi salah satu kejadian yang penting dan harus dihadapi dalam kehidupan seorang perempuan; di mana masa menstruasi akan berhenti. Oh ya, setiap perempuan memiliki respon yang berbeda-beda, lho.

Beberapa perempuan akan merasa takut karena salah satu gejala menopause adalah sebuah perasaan yang menimbulkan ketidakpercayaan diri, seperti; tidak menarik, kesepian, tak berguna, dan tak berdaya. Mereka juga menjadi mudah sedih karena sudah tidak subur dan tidak muda lagi.

Namun, sementara yang lain malah menunggu-nunggu datangnya masa menopause. Menopause bisa dianggap malah membuat mereka memiliki kesempatan baru dalam hidup secara fisik, emosi, seksual dan spirit. Apalagi menopause memberikan kesempatan untuk “bebas” dari kewajiban melahirkan dan PMS.

Menopause tentunya akan membawa perubahan pada hidup Anda, termasuk hubungan Anda bersama orang lain. Yuk, persiapkan diri Anda agar datangnya menopause menjadi lebih mudah untuk dihadapi.

Hubungan dengan orang sekitar
Parents, ada banyak sekali skenario yang terjadi mengenai menopause di luar sana.
Pertama, seperti halnya perempuan yang mengalami menstruasi pertama dan disebut “muda” atau beranjak “dewasa “, perempuan yang mengalami menopause otomatis menjadi disebut “tua” atau “waktunya sudah lewat”, yang berarti perempuan sudah tidak mampu lagi melahirkan anak.

Produksi hormon estrogen akan menurun, bahkan berhenti, dan ini akan berpengaruh pada hilangnya tanda-tanda kecantikan yang selama ini merupakan ciri khas perempuan yang dibanggakan dan kecemasan bertambah karena khawatir pasangan akan lebih tertarik dengan yang lebih muda dan menggairahkan.

Kedua, menopause akan dikaitkan dengan selesainya peran perempuan sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak. Menopause memang terjadi di usia 45 hingga 57 tahun, di mana pada umumnya pasangan atau suami sedang berada di puncak karir dan anak-anak sudah bisa hidup secara mandiri. Bagi perempuan yang mengabdikan diri total pada keluarga, maka berkurangnya kerepotan mengurus suami dan anak akan menimbulkan perasaan bahwa dirinya “tidak berharga lagi”, dan “tidak dibutuhkan lagi”.

Menopause, inilah cara menghadapinya
Berkomunikasi Saat Menopause

Tanpa disadari skenario tersebut dapat seorang perempuan hadapi semudah berkomunikasi. Dengan komunikasi, dengan lingkungan sekitar, termasuk pasangan, anak-anak dan keluarga Anda. Tidak apa-apa kok, untuk merasa sensitif dengan menopause. Hal terpenting adalah merubah perspektif tentang segenap proses perubahan ini sebagai sesuatu yang positif. Anda tidak perlu malu atas perubahan yang terjadi. Terbukalah kepada orang-orang terdekat agar mereka bisa lebih memahami dan Anda pun akan merasa lebih baik.

Kalau masih kesulitan Anda juga bisa menghubungi konselor atau tenaga profesional jika diperlukan.

Hubungan dengan diri sendiri
Untuk diri sendiri, menerapkan pola hidup sehat, seperti makan makanan bergizi dan berserat, olahraga yang teratur memang sudah seperti kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi, Parents. Namun, berdamai dengan diri sendiri memang terdengar menjadi langkah dari perjalanan yang baru untuk Anda.

Menopause, inilah cara menghadapinya
Makan Makanan Bergizi Saat Menopause

Tetap giat dalam melakukan banyak aktivitas dan menikmati setiap aktivitas tersebut juga akan menyehatkan kondisi Anda, baik psikis dan fisik. Selain itu, juga meningkatkan sisi religius pada diri untuk menerima perubahan itu juga dapat dilakukan. Tetaplah berkarya dan berusaha agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain; tak hanya dalam keluarga inti namun juga komunitas.

Temukan lagi hal-hal yang membuat Anda senang, lakukan apa yang membuat diri bersemangat lagi. Jangan lupa, dengan meyakini bahwa menopause itu adalah sesuatu yang wajar, seperti wajarnya hal yang terjadi pada masa menstruasi, Anda akan menemukan lagi proses pendewasan ternyata berlangsung bahkan di usia tua!

Mengatasi menopause bukanlah hal mudah. Namun, dengan informasi, komunikasi dan kesadaran diri seharusnya menopause dapat diterima sehingga tidak perlu mendatangkan ketakutan yang hanya akan memperburuk gejala-gejala yang mengikuti!