Mengenali dan menangani fase pemberontakan

Mengenali dan menangani fase pemberontakan

5 min read

Seperti anak-anak yang sedang menghadapi masa pubertas penuh kebingungan, Anda yang ada di rumah mungkin merasa kesulitan tentang bagaimana cara menghadapi mereka. 

Anda mungkin akan merasa sang buah hati telah menjadi orang yang benar-benar berbeda. Selamat! Ini adalah bagian terpenting dari prosesnya menjadi dewasa. Sudah waktunya Anda untuk belajar menyesuaikan diri dengan pertumbuhannya meskipun fase memberontak berbeda pada setiap anak, ada baiknya Anda mempersiapkan diri, ya Parents!

Apakah fase pemberontakan dimulai secara tiba-tiba? 

Seperti yang telah tercantum pada bagian “Kapan fase pemberontakan dimulai?”, fase ini tidak memiliki awal yang jelas walaupun kejadiannya terkait erat dengan fase pemberontakan sekunder. 

Seiring waktu berlalu, Anda akan melihat perubahan kecil pada sang buah hati atau mungkin secara simultan dan tiba-tiba tanpa ada peringatan bahwa fase pemberontakan mulai berlangsung. Pastikan untuk menjaga komunikasi baik dengan anak agar Anda tidak melewatkan perubahan-perubahan seperti itu, ya Parents!

Apakah ini adalah salah satu tanda-tanda fase pemberontakan?

  • Ia tidak lagi menatap matamu. 
  • Ia tak lagi terbiasa untuk menceritakan segalanya dan memiliki percakapan yang baik bersama Anda. 
  • Ia tidak memiliki ekspresi di wajahnya dan bisa menjadi marah atau emosional secara tiba-tiba padahal dahulu Ia adalah anak yang ceria. 
  • Ia tak lagi belajar atau berusaha keras. Ia mulai tidak tertarik melakukan apapun. 
  • Ia memiliki pikiran dan dunianya sendiri yang tak bisa terbaca, padahal sebelumnya Anda dapat mengetahui dengan hanya melihat ekspresi dan sikapnya saja.

Bagaimana Aku harus berbicara dengan putriku selama fase pemberontakan? 

Saat fase pemberontakan benar-benar terjadi, sang buah hati bisa saja melawan, berhenti mendengarkan, dan membuat Anda kesal; namun memarahinya dan bersikap konfrontatif hanya akan memperburuk situasi. Ada baiknya untuk mempertimbangkan ucapan dan respon Anda. 

Apakah Anda memperlakukan Ia sebagai anak kecil yang selalu harus diperingatkan dan didikte dalam kehidupannya? Nah, rasa perhatian Anda untuk membantunya memang baik, Parents; namun terlalu banyak mencampuri urusannya dapat mencegahnya menjadi mandiri. Meskipun anak-anak mengerti bahwa Anda melakukan hal-hal ini untuk dirinya, selama fase pemberontakan, Ia tetap saja akan mengatakan "Nggak usah bawel deh, Aku sudah tahu!"

Karena masa pubertas dan fase memberontak adalah momen dimana seorang anak akan berkembang, ini adalah kesempatan yang baik untuk mengubah cara berpikir sang buah hati. Terimalah dan berikan Ia kepercayaan karena anak Anda adalah manusia yang sedang mencoba mengembangkan diri mereka sendiri. 

Saat ini terjadi, anak Anda sedang menghadapi perasaan dan emosi yang benar-benar kompleks. Tak hanya mengawasi, memberikan dukungan moral tentang apa yang benar dan apa yang salah saat mereka menghadapi kesulitan atau kekhawatiran saat tumbuh dewasa sudah menjadi tugas Anda, Parents. Mengertilah bahwa sang buah hati sedang mengalami konflik di dalam dirinya, jadi Anda dapat menghadapi situasi dengan terbuka dan lapang untuk menghindari hubungan satu arah.

Apa yang harus dilakukan dan tidak saat menghadapi masa pemberontakan?

  • Pikirkan mengapa anak melakukan hal itu, kenapa Ia berpikir seperti itu, dengarkan pendapat serta pemikirannya, dan pikirkan bersama apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki situasi. 
  • Hindari perdebatan ketika Ia mulai memberontak dan menjadi emosional. Tarik nafas, Parents! Ini waktunya untuk bersikap selayaknya orang dewasa, ya! 
  • Daripada memaksakan pemikiran orang dewasa padanya dengan mendiktenya, lebih baik Anda tanyakan padanya "Menurutmu apa yang harus kamu lakukan?" 
  • Perhatikan tanda-tanda yang diberikan anakmu - apakah mereka terlihat ingin mengatakan sesuatu tetapi sulit untuk berbicara, atau sedang mencari waktu yang tepat untuk membuka percakapan. 
  • Jangan membandingkan dirinya dengan orang lain, lihatlah sisi positif yang Ia miliki.

 

 

 

Selama masa pubertas, anak-anak mulai melihat dirinya sendiri secara objektif. Ini adalah saat ketika akan bertanya-tanya pada diri pertanyaan seperti "Apakah ini tidak apa-apa?", atau "Menurutku ini salah deh". Ia akan membentuk kumpulan nilai dan identitasnya sendiri sementara mereka menyangkal diri. Inilah yang membuat mereka dapat menjadi sangat sensitif ketika menerima penolakan dari orang lain. 

Ada kalanya Ia akan berbicara kasar atau mengabaikanmu. Namun, ketika Ia menyangkal diri sendiri yang akan menyebabkan kesedihan yang mendalam, rasa cemas, dan luka; Ia akan memberontak ketika ada orang yang paling mereka percayai tidak lagi berada di sisinya. 

Pastinya, ada banyak hal yang ingin Anda katakan pada sang buah hati. Nah, cobalah untuk menghindari kata-kata dan tindakan negatif yang akan menyakiti perasaannya. Terimalah mereka apa adanya, Parents. Jika Anda terlanjur mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, minta maaflah. Di sanalah, Ia akan belajar betapa pentingnya mengungkapkan perasaan secara jujur dan terbuka. 

Membangun komunikasi yang baik dengan buah hati 

Jagalah jarak Anda, karena fase pemberontakan adalah momen penting dimana anak akan berkembang menjadi manusia dewasa. Jalin komunikasi secara teratur agar dia bisa datang padamu ketika Ia memiliki masalah dan agar Anda juga dapat memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.

Berbicara sambil bertatap muka adalah cara yang terbaik walaupun akan menjadi sulit ketika Anda sibuk dan memiliki jadwal yang berbeda dengan sang buah hati. Berkomunikasilah dengan smartphone dapat menjadi solusi, ada banyak media sosial dan aplikasi yang dapat mempermudah kalian untuk saling berbicara. Anda pasti bisa!

Hal yang harus diingat!

  • Putri Anda tumbuh setiap hari tanpa disadari. Luangkanlah waktu untuk berhubungan dan mengobrol dengannya agar Anda tidak melewatkan perubahan penting dalam hidupnya. 
  • Seiring masa pubertas sang buah hati, Anda juga harus berubah. Kalian sedang bersamasama menjalani proses tumbuh, terus membangun hubungan baru untuk kehidupan berkeluarga yang lebih baik.